Melly Goeslaw Dorong Pelestarian dan Pengenalan Angklung kepada Generasi Z
Bandung, 24 Juli 2026, Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw, mengajak generasi muda untuk melihat angklung bukan sekadar sebagai peninggalan budaya, tetapi sebagai identitas bangsa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertema “Angklung Bukan Sekadar Warisan, tetapi Suara Masa Depan: Upaya Pelestarian dan Pengenalan Angklung kepada Generasi Z” yang diselenggarakan di D Botanica Bandung bersama Muhammad Fitra Ramdhani.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku seni, komunitas budaya, akademisi, serta generasi muda untuk memperkuat komitmen dalam menjaga keberlangsungan angklung sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Melalui pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan keseharian anak muda, angklung diharapkan tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi kreatif generasi masa kini.
Dalam sambutannya, Melly Goeslaw menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia. Menurutnya, budaya akan tetap hidup apabila berhasil diwariskan dengan cara yang relevan bagi generasi penerus.
“Angklung bukan hanya alat musik tradisional. Di balik setiap nadanya tersimpan filosofi tentang kebersamaan, harmoni, dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang justru sangat dibutuhkan oleh generasi muda di tengah dunia yang semakin individual dan serba digital. Karena itu, tugas kita bukan hanya melestarikan angklung, tetapi juga membuatnya tetap dicintai,” ujar Melly.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pemuda, olahraga, riset, dan perpustakaan, Melly menilai bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi. Angklung perlu hadir di ruang-ruang yang akrab dengan Generasi Z, mulai dari sekolah, kampus, media sosial, festival kreatif, hingga kolaborasi dengan musik modern dan industri kreatif.
Menurutnya, ketika angklung mampu hadir dalam karya-karya kontemporer, generasi muda tidak lagi melihatnya sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai instrumen yang mampu berbicara tentang masa depan Indonesia.
“Budaya tidak boleh berhenti menjadi benda pajangan. Budaya harus dimainkan, dipelajari, dipromosikan, bahkan dikembangkan agar terus relevan. Saya percaya Generasi Z memiliki kreativitas luar biasa untuk membawa angklung ke panggung dunia tanpa kehilangan akar budayanya,” tambahnya.
Organik dalam bermusik adalah sesuatu yang indah karena kita harus pandai mengharmonisasikan dan memodifikasikan kolaborasi antara instrumen dengan kata-kata yang kemudian menjadi hits dan viral. Selalu lugas natural tidak mengada-ada terhadap originalitas tradisi pelaku seni.
Yang tidak pernah dapat digantikan oleh AI dalam bermusik adalah “Roh” selalu berkolaborasi dengan teknologi namun penting adanya sentuhan budaya yang otentik tanpa kalah bersaing dan selalu menjadi masterpiece dalam setiap maha karya yang dihasilkan.
Melly juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pelestarian budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, investasi terbaik bagi masa depan budaya Indonesia adalah memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk mengenal, mencintai, dan berkreasi menggunakan warisan budayanya sendiri.
Melalui kegiatan ini diharapkan semakin banyak generasi muda yang memahami bahwa angklung bukan hanya simbol identitas budaya Jawa Barat, tetapi juga aset bangsa yang memiliki potensi besar dalam diplomasi budaya, pendidikan karakter, dan penguatan ekonomi kreatif Indonesia.
Sebagai penutup, Melly Goeslaw mengajak seluruh peserta untuk menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya.
“Mari kita buktikan bahwa angklung bukan hanya suara masa lalu, tetapi juga suara masa depan Indonesia. Ketika anak muda memainkan angklung dengan bangga, sesungguhnya mereka sedang memainkan identitas bangsa yang akan terus hidup lintas generasi.”
Di akhir acara suasana haru, seluruh audiens bersama Melly Goeslaw beserta maestro Angklung Mamad Fitra dan Rais Abidin memainkan Angklung bersama melantunkan lagu Bunda yang sangat fenomenal legendaris sepanjang masa.






