Sekolah Rakyat 9 Bandung Tampilkan Harmoni Budaya dan Prestasi untuk Sambut Melly Goeslaw
Bandung, 24 Juli 2026 – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti kunjungan Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw, ke Sekolah Rakyat 9 Bandung. Kedatangan Melly disambut dengan rangkaian persembahan istimewa dari para siswa yang mencerminkan semangat belajar, keberagaman, serta pengembangan karakter yang menjadi ruh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga asrama, kebutuhan hidup sehari-hari, serta pembinaan karakter bagi para peserta didik. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa terkendala kondisi ekonomi.
Anggota Komisi X DPR RI Melly Goeslaw menyampaikan bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak Indonesia. Menurutnya, program Sekolah Rakyat menjadi salah satu bentuk keberpihakan negara terhadap kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
“Anak-anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik. Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi keluarga,” ujar Melly Goeslaw.
Acara diawali dengan penampilan tari tradisional yang dibawakan penuh percaya diri oleh para peserta didik. Gerak yang anggun dan penuh makna menjadi simbol kecintaan generasi muda terhadap budaya Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui seni dan budaya.
Tak hanya itu, para siswa juga membacakan puisi secara bergantian dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Arab. Penampilan tersebut menjadi gambaran bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya membangun kemampuan akademik, tetapi juga membekali peserta didik dengan wawasan global, kemampuan berbahasa asing, dan rasa percaya diri untuk menghadapi masa depan.
Kemeriahan penyambutan semakin lengkap dengan atraksi para karateka muda yang menampilkan demonstrasi bela diri penuh disiplin, ketangkasan, dan sportivitas. Penampilan ini memperlihatkan bagaimana pendidikan di Sekolah Rakyat turut membentuk karakter tangguh, disiplin, dan pantang menyerah.
Melly Goeslaw mengaku terharu dan bangga melihat antusiasme serta bakat yang ditunjukkan para siswa. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi luar biasa yang harus diberikan ruang untuk berkembang tanpa dibatasi oleh kondisi ekonomi keluarga.
“Saya benar-benar tersentuh melihat anak-anak ini tampil dengan penuh percaya diri. Mereka menari, berpuisi dalam tiga bahasa, hingga menunjukkan kemampuan bela diri dengan sangat baik. Ini membuktikan bahwa ketika negara memberikan kesempatan yang sama melalui pendidikan, anak-anak Indonesia mampu menunjukkan kualitas yang luar biasa,” ujar Melly Goeslaw.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga pendidik dan pengelola Sekolah Rakyat yang telah menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, kreativitas, dan keterampilan hidup.
Bagi Melly Goeslaw, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu membangun manusia Indonesia secara utuh. Seni, bahasa, olahraga, dan budaya merupakan bagian penting dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta siap menjadi pemimpin masa depan.
Kunjungan ini menjadi momentum yang memperlihatkan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuh bagi anak-anak untuk menemukan potensi terbaiknya. Melalui dukungan pemerintah, para pendidik, dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kreativitas harus dibentuk dari usia dini bahkan ketika seorang anak memiliki sifat introvert namun tanpa dirasa ada bakat terpendam sekalipun dengan kemampuan yang di rasa terbatas akan memiliki keahlian tak terduga.
Diakhir kunjungan Melly Goeslaw bersama anak-anak bernyanyi “Cinta Bertasbih” ditutup dengan lagu “Bunda” yang membuat suasana sore menjadi sangat melankolis dan haru.
Pesan Melly, Selamat berjuang anak-anak ku, jadilah anak yang selalu takwa kepada Sang Pencipta dan selalu punya mimpi hebat untuk masa depan.
Wayang Golek: Tradisi yang Tetap Keren di Tangan Anak Muda
Melly Goeslaw Mengajak Kaum Muda Memelihara Wayang Golek lewat Perayaan Semarak Budaya
Bandung, 24 Juli 2026, Bertempat di D’Botanica bersama Panji Rangga Wiguna, Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw, hadir dalam acara Semarak Budaya bertajuk “Wayang Golek: Tradisi yang Tetap Keren di Tangan Anak Muda”, sebagai langkah memperkokoh upaya pelestarian sekaligus memacu partisipasi generasi muda dalam merawat warisan budaya Indonesia.
Saat memberikan sambutan, Melly Goeslaw menekankan bahwa budaya tidak semestinya berhenti sebagai kenangan masa lampau, melainkan perlu dihidupkan sebagai sumber ilham bagi hari esok. Baginya, wayang golek adalah mahakarya budaya Sunda yang kaya nilai seni, memuat pesan moral, mengandung filosofi hidup, serta meneguhkan identitas bangsa yang wajib diteruskan kepada generasi mendatang.
“Kita sering berpikir bahwa tradisi dan anak muda berada di dua dunia yang berbeda. Padahal saya percaya, tradisi justru akan tetap hidup ketika anak muda diberi ruang untuk mengenalnya, mencintainya, lalu mengembangkannya dengan cara mereka sendiri. Wayang golek bukan benda museum yang hanya dipandang dari kejauhan. Wayang golek adalah warisan hidup yang bisa terus relevan mengikuti perkembangan zaman,” ujar Melly Goeslaw.
Berstatus anggota Komisi X DPR RI yang menangani pendidikan, kebudayaan, olahraga, riset, perpustakaan, dan statistik, Melly berpandangan bahwa menjaga budaya tidak cukup ditempuh lewat pementasan atau seremoni belaka. Jauh lebih urgen ialah mencipta ekosistem yang merangkul sekolah, keluarga, komunitas, seniman, pemerintah, sampai industri kreatif supaya budaya menyatu dengan rutinitas harian kaum muda.
Ia turut mendorong anak muda agar berani berinovasi mengolah budaya lewat cara yang segar, memanfaatkan teknologi digital, media sosial, seni panggung, musik, animasi, dan aneka konten kreatif yang akrab dengan keseharian mereka, sembari tetap menjaga nilai serta jati diri budaya tersebut.
“Anak muda tidak harus memilih antara modern dan tradisional. Keduanya bisa berjalan berdampingan. Ketika kreativitas bertemu dengan akar budaya, di situlah lahir karya-karya yang tidak hanya keren, tetapi juga memiliki identitas yang kuat. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi akar budaya jangan pernah kita lepaskan,” tambahnya.
Melly menambahkan bahwa Jawa Barat menyimpan kekayaan budaya luar biasa, dan wayang golek menjadi salah satu lambang kebanggaan masyarakat Sunda yang pamornya telah menembus kancah internasional. Karena itu, upaya menjaga tradisi ini perlu digerakkan bersama, bukan semata tugas para dalang atau seniman, melainkan kewajiban segenap elemen bangsa.
Gelaran Semarak Budaya menghadirkan pementasan wayang golek, dialog budaya, sesi edukasi mengenai filosofi tokoh pewayangan, serta ruang interaksi yang mempertemukan seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif. Dari kegiatan ini diharapkan tumbuh kecintaan baru pada budaya lokal sambil memacu generasi muda menjadi pelaku, bukan hanya penonton, dalam merawat kelangsungan warisan bangsa.
Saat menutup sambutannya, Melly Goeslaw mengajak segenap masyarakat, terutama kaum muda, menjadikan budaya sebagai bagian dari gaya hidup yang patut dibanggakan dan kebutuhan jiwa tetap harus dapat disalurkan.
“Wayang golek mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki karakter, setiap cerita memiliki pelajaran, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan kisahnya. Hari ini, tongkat estafet itu ada di tangan anak-anak muda. Mari buktikan bahwa tradisi tidak pernah kehilangan pesonanya. Di tangan generasi muda, wayang golek akan tetap hidup, tetap relevan, dan tetap keren.”
Acara ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya kian kokoh ketika diwariskan melalui ruang edukasi, kolaborasi, dan kreativitas. Dengan semangat kebersamaan, Wayang Golek diharapkan senantiasa menjadi kebanggaan masyarakat Sunda sekaligus unsur penting identitas budaya Indonesia di tengah arus perkembangan zaman.
Angklung Bukan Sekadar Warisan, tetapi Suara Masa Depan
Melly Goeslaw Dorong Pelestarian dan Pengenalan Angklung kepada Generasi Z
Bandung, 24 Juli 2026, Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw, mengajak generasi muda untuk melihat angklung bukan sekadar sebagai peninggalan budaya, tetapi sebagai identitas bangsa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertema “Angklung Bukan Sekadar Warisan, tetapi Suara Masa Depan: Upaya Pelestarian dan Pengenalan Angklung kepada Generasi Z” yang diselenggarakan di D Botanica Bandung bersama Muhammad Fitra Ramdhani.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku seni, komunitas budaya, akademisi, serta generasi muda untuk memperkuat komitmen dalam menjaga keberlangsungan angklung sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Melalui pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan keseharian anak muda, angklung diharapkan tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi kreatif generasi masa kini.
Dalam sambutannya, Melly Goeslaw menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia. Menurutnya, budaya akan tetap hidup apabila berhasil diwariskan dengan cara yang relevan bagi generasi penerus.
“Angklung bukan hanya alat musik tradisional. Di balik setiap nadanya tersimpan filosofi tentang kebersamaan, harmoni, dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang justru sangat dibutuhkan oleh generasi muda di tengah dunia yang semakin individual dan serba digital. Karena itu, tugas kita bukan hanya melestarikan angklung, tetapi juga membuatnya tetap dicintai,” ujar Melly.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pemuda, olahraga, riset, dan perpustakaan, Melly menilai bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi. Angklung perlu hadir di ruang-ruang yang akrab dengan Generasi Z, mulai dari sekolah, kampus, media sosial, festival kreatif, hingga kolaborasi dengan musik modern dan industri kreatif.
Menurutnya, ketika angklung mampu hadir dalam karya-karya kontemporer, generasi muda tidak lagi melihatnya sebagai simbol masa lalu, melainkan sebagai instrumen yang mampu berbicara tentang masa depan Indonesia.
“Budaya tidak boleh berhenti menjadi benda pajangan. Budaya harus dimainkan, dipelajari, dipromosikan, bahkan dikembangkan agar terus relevan. Saya percaya Generasi Z memiliki kreativitas luar biasa untuk membawa angklung ke panggung dunia tanpa kehilangan akar budayanya,” tambahnya.
Organik dalam bermusik adalah sesuatu yang indah karena kita harus pandai mengharmonisasikan dan memodifikasikan kolaborasi antara instrumen dengan kata-kata yang kemudian menjadi hits dan viral. Selalu lugas natural tidak mengada-ada terhadap originalitas tradisi pelaku seni.
Yang tidak pernah dapat digantikan oleh AI dalam bermusik adalah “Roh” selalu berkolaborasi dengan teknologi namun penting adanya sentuhan budaya yang otentik tanpa kalah bersaing dan selalu menjadi masterpiece dalam setiap maha karya yang dihasilkan.
Melly juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pelestarian budaya yang berkelanjutan. Menurutnya, investasi terbaik bagi masa depan budaya Indonesia adalah memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk mengenal, mencintai, dan berkreasi menggunakan warisan budayanya sendiri.
Melalui kegiatan ini diharapkan semakin banyak generasi muda yang memahami bahwa angklung bukan hanya simbol identitas budaya Jawa Barat, tetapi juga aset bangsa yang memiliki potensi besar dalam diplomasi budaya, pendidikan karakter, dan penguatan ekonomi kreatif Indonesia.
Sebagai penutup, Melly Goeslaw mengajak seluruh peserta untuk menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya.
“Mari kita buktikan bahwa angklung bukan hanya suara masa lalu, tetapi juga suara masa depan Indonesia. Ketika anak muda memainkan angklung dengan bangga, sesungguhnya mereka sedang memainkan identitas bangsa yang akan terus hidup lintas generasi.”
Di akhir acara suasana haru, seluruh audiens bersama Melly Goeslaw beserta maestro Angklung Mamad Fitra dan Rais Abidin memainkan Angklung bersama melantunkan lagu Bunda yang sangat fenomenal legendaris sepanjang masa.
RUU Hak Cipta Disahkan sebagai Usul Inisiatif DPR RI pada 12 Maret 2026, Dorong Penguatan Ekosistem Kreatif Nasional
Jakarta, 12 Maret 2026 — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia secara resmi menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Cipta sebagai Usul Inisiatif DPR RI dalam rapat yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maret 2026. Pengajuan dan penyerahan RUU ini dilakukan oleh anggota DPR RI, Melly Goeslaw, sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat sistem perlindungan hak cipta di Indonesia.
Disahkannya RUU ini sebagai usul inisiatif DPR RI merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pembentukan regulasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital serta dinamika industri kreatif nasional.
Dalam keterangannya, Melly Goeslaw menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses penyusunan dan pengajuan RUU tersebut. Menurutnya, regulasi hak cipta yang kuat sangat dibutuhkan untuk memberikan kepastian hukum, perlindungan, serta kesejahteraan yang lebih baik bagi para pencipta dan pelaku industri kreatif di Indonesia.
“Langkah ini adalah bagian dari perjuangan panjang untuk memastikan karya para pencipta Indonesia mendapatkan perlindungan yang adil, transparan, dan relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital,” ujarnya.
RUU Hak Cipta ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan baru dalam ekosistem kreatif, termasuk persoalan distribusi karya secara digital, pengelolaan royalti, serta perlindungan terhadap hak moral dan hak ekonomi para pencipta.
Ke depan, proses pembahasan RUU ini akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas kreatif, akademisi, praktisi hukum, serta lembaga terkait, guna menghasilkan regulasi yang komprehensif dan berpihak pada kemajuan kebudayaan serta industri kreatif Indonesia.
Bersama Melly Goeslaw Anggota Komisi X DPR RI Salurkan Bantuan Bola Sepak ke Sekolah Bandung Raya
Bandung, 26 Januari 2026 – Lapangan sekolah hari ini bukan hanya tempat berlari mengejar bola, tetapi juga ruang tumbuhnya mimpi, disiplin, dan semangat kebersamaan. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembinaan olahraga sejak usia dini melalui penyerahan bantuan bola sepak kepada sejumlah sekolah di Kota Bandung.
Bantuan ini menjadi simbol sederhana namun bermakna: bahwa setiap anak berhak bermain, bergerak, dan bermimpi setinggi mungkin tanpa harus dibatasi oleh fasilitas.
Adapun rincian penyaluran bantuan bola sepak dari Kemenpora RI adalah sebagai berikut:
- SMAN 23 Bandung menerima 40 bola sepak
- SMKN 7 Kota Bandung menerima 40 bola sepak
- SMPN 42 Kota Bandung (Program Sumur Imbuhan Dalam) menerima 40 bola sepak
- SDN 263 Rancaloa menerima 30 bola sepak
Total bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani, ekstrakurikuler olahraga, serta pembinaan bakat sepak bola di lingkungan sekolah.
Dalam suasana penyerahan yang penuh kehangatan, bantuan ini bukan sekadar benda bulat yang ditendang di lapangan, tetapi juga bentuk kepercayaan negara kepada generasi muda bahwa dari sekolah-sekolah inilah lahir atlet, pemimpin, dan pribadi tangguh di masa depan.
Melalui program ini, Kemenpora RI menegaskan bahwa olahraga bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang karakter: kerja sama, sportivitas, ketekunan, dan rasa percaya diri. Nilai-nilai yang kelak akan mereka bawa, tidak hanya di lapangan hijau, tetapi juga dalam kehidupan.
Dengan dukungan semua pihak—sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah—bola-bola ini diharapkan terus bergerak, menggelindingkan semangat sehat, bahagia, dan berprestasi bagi anak-anak Indonesia.
Karena kadang, mimpi besar memang dimulai dari tendangan kecil di lapangan sekolah. ⚽💙
Silaturahim Pelaku UMKM Bandung–Cimahi dalam Gerakan UMKM bersama Melly Goeslaw Corner
Bandung–Cimahi, 25 Januari 2026 – Kegiatan Silaturahim Pelaku UMKM Bandung–Cimahi dalam Gerakan UMKM bersama Melly Goeslaw Corner (Balad Melly) digelar dalam rangka kunjungan daerah pemilihan (Kundapil) pada Minggu, 25 Januari 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku UMKM lintas sektor, komunitas lingkungan, serta pemangku kepentingan lokal untuk mendorong transformasi UMKM yang ramah lingkungan, inovatif, dan berkelanjutan.
Sesi 1 mengangkat topik “UMKM Bandung–Cimahi Membangun Usaha Ramah Bumi” yang dikemas dalam format silaturahim dan dialog terbuka. Kegiatan berlangsung secara duduk melingkar tanpa podium, melibatkan pelaku UMKM kuliner, fesyen, kriya, serta pengelola bank sampah. Format ini dirancang agar dialog berjalan setara, partisipatif, dan berorientasi pada solusi nyata.
Melalui sesi ini, para peserta berbagi pengalaman terkait penggunaan kemasan ramah lingkungan, pengelolaan limbah usaha, serta penerapan ekonomi sirkular dalam aktivitas UMKM sehari-hari. Aspirasi pelaku UMKM Bandung–Cimahi juga dihimpun sebagai bahan perumusan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat sekaligus pelestarian lingkungan.
Sesi 2 mengangkat tema UMKM Greenmovement dengan topik “Daur Ulang Jadi Produk Kreatif: Dari Limbah ke Karya Bernilai”. Sesi ini menekankan peran UMKM sebagai garda depan pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui pengurangan sampah sekali pakai dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Silaturahim pada sesi ini melibatkan pelaku industri pendukung, antara lain penyedia kemasan ramah lingkungan, UMKM kuliner yang mulai beralih ke kemasan berkelanjutan, UMKM fesyen dan kriya berbasis daur ulang, serta UMKM berbasis komunitas. Salah satu pelaku UMKM Greenmovement yang terlibat adalah @newhun.recycle, Pemanfaatan Limbah Singkong (Air Pati) Menjadi Kantong Plastik Ramah Lingkungan BEDA PLA, Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromatherapy BIOMOL BTC-NYALI, Pemanfaatan Tumbuhan dan Tanaman Menjadi Souvenir Kreatif oleh Pengrajin Disabilitas Cemara Paper.
Dan masih banyak UMKM yang menghadirkan praktik nyata daur ulang menjadi produk kreatif.
Kegiatan ini menegaskan komitmen bersama bahwa UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal, tetapi juga bagian dari solusi lingkungan melalui inovasi, kolaborasi, dan penguatan ekonomi sirkular di tingkat daerah.







































